Sabtu, 11 Mei 2013

KALIMAT TAUHID DAPAT MENGHAPUS EMPAT RIBU DOSA BESAR



Diantara keutamaan membaca kalimat Tauhid adalah dapat menghapus empat ribu macam dosa-dosa besar, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Imam As-Sanusiy sebagai berikut :

أَنَّ مَنْ قاَلَ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَمَدَّهاَ هَدَمَتْ لَهُ أَرْبَعَةُ آلاَفِ ذَنْبٍ مِنَ الكَباَئِرِ
Artinya :
“Sesungguhnya barang siapa membaca kalimat Tauhid لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan memanjangkannya, maka baginya akan dihapus empat ribu macam dosa besar”.

Pada saat itu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana apabila satupun dia tidak memiliki dosa besar ?”, Rasulullah menjawab ; “Maka yang dihapuskan empat ribu macam dosa besar adalah keluarga dan para tetangganya”. 

Dalam membaca panjang kalimat Tauhid, para Ulama mengajarkan sebagai berikut :

a.   Ketika melafalkan LA dan bibaca lebih panjang sambil kepala berpaling ke sebelah kanan dan hati menghayati artinya yaitu “tidak ada”.
b.   Ketika melafalkan ILAHA sambil kepala bergerak ke bagian tengah dan hati menghayati artinya yaitu “Tuhan yang wajib disembah”.
c.   Ketika melafalkan ILLALLAH sambil kepala berpaling kesebalah kiri dan hati menghayati artinya yaitu “melainkan Allah”.
d.  Setelah nya, dihadirkan dalam hati kalimat  مُحَمَّدُ رَسُوْلُ اللهِ  sambil menghayati artinya yaitu “Muhammad adalah utusan Allah”. Hal ini untuk membedakan cara membaca kalimat Tauhid dengan umat terdahulu sebelum baginda Nabi Muhammad, karena umat dahulu membaca kalimat Tauhid tanpa diringi مُحَمَّدُ رَسُوْلُ اللهِ .

PEMBACANYA DIJAGA DARI SEMBILAN PULUH SEMBILAN PINTU MUSIBAH
Diantara keutamaan membaca kalimat Tauhid adalah dapat melindungi pembacanya dari sembilan puluh sembilan pintu musibah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu ‘Asaakir yang diterima dari Imam Ibnu Abbas, yaitu sebagai berikut :

إِنَّ قَوْلَ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ تَدْفَعُ عَنْ قاَئِلِهاَ تِسْعَةَ وَتِسْعِيْنَ باًباً مِنَ البَلاَءِ أَدْناَهاَ الهَمُّ .
Artinya : Sesungguhnya bacaan kalimat tauhid لآ إِلَهَ إِلاَّ الله akan menjaga atau melindungi para pembacanya dari sembilan puluh sembilan macam pintu musibah, dan musibah yang paling rendah adalah mengalami keresahan”.

Sungguh luar biasa, hanya membaca satu kali saja akan menjaga dan melindungi pembacanya dari sembilan pulu sembilan macam musibah yang berat, kecuali kematian, seperti musibah kebakaran, musibah banjir, tanah longsor dll. paling rendah adalah resah atau bingung.

Apabila timbul pertanyaan, “Mengapa musibah tetap datang dan menimpa, sedangkan mereka sering sekali membaca kalimat tauhid ?”

Ingat !, dalam hal ini terdapat beberapa faktor penyebab musibah itu menimpa, diantaranya :

a.   Membaca dua kalimat tauhid dalam keadaan lalai kepada Allah Swt, atau
b.   Pembaca kalimat tauhid tidak meyakini terdapat keutamaan tersebut, atau
c.   Dia melakukan suatu dosa, yang cara menghapuskan dosa tersebut adalah hanya dengan menimpakan musibah itu.

Keutamaan kalimat Tauhid mustahil dusta atau hanya isapan jempol semata, karena demikian itu ajaran Allah Swt. Manusia harus sering intropeksi dan memeriksakan diri keadaan rohani dirinya kepada para Ulama yang ahli agama yang selalu memperhatikan tatakrama dalam agama Islam.

Diantara tatakrama seorang muslim secara lahiriyah adalah tidak pernah membuka peci atau tutup kepala, kecuali keadaan darurat. Terlebih-lebih memenuhi kewajiban menutup aurat, baik lelaki ataupun perempuan.

HIKAYAT KETEGUHAN IMAN
Hikayat ini diterima dari seorang Ulama besar, yaitu Syekh Abdul Wahid bin Zaed, sebuah hikayat nyata dari pengalaman sendiri, beliau berkata, kisahnya sebagai berikut :

Suatu hari saya sedang berada di atas kapal layar di tengah laut, tiba-tiba datang angin topan besar menerpa dan menyeret kapal layar yang saya tumpangi, saya bersyukur selamat namun saya terdampar disebuah pulau, lalu saya pun memasuki pulau itu untuk lebih menyelamatkan diri.

Setelah masuk ke pulau itu lebih dalam ternyata di pulau itu ada seorang manusia, saat itu saya melihat dia sedang menyembah berhala. Setelah cukup lama istirahat dan menceritakan apa yang baru saja saya alami, saya memberanikan diri berkata, “apakah saudara menyembah berhala ini dan dijadikan Tuhan ? sementara  di tempat saya banyak orang yang bisa membuat Tuhan yang saudara sembah ini ?”. ”Lalu tuhan saudara sendiri siapa ?”, dia balik bertanya. “Saya menyembah Allah Swt, yaitu Tuhan yang menciptakan ‘Arsy diatas langit, yang menciptakan hamparan bumi dan yang menciptakkan lautan luas”, jawab saya mantap. “Siapa yang mengajarkan sudara seperti itu ?”. dia seolah ingin lebih tahu. ”Ada utusan-Nya yang sampai kepada kami dan mengajarkan hal itu”, jawab saya penuh kesungguhan. “Apa yang dikerjakan utusan Tuhan saudara itu ?”. tanyanya semakin penasaran. “Allah Swt yaitu Tuhan kami, Dia mengirim utusan-Nya hanya untuk menyampaikan ajaran-Nya”, jawab saya. “Apakah saudara memiliki tanda-tanda akan kebenaran ada utusan-Nya ?”, tanyanya dengan pebuh semangat. “Benar, dan tandanya adalah ada firman-firman-Nya melalui lisan utusan-Nya itu”, jawab saya. “Apa saudara memiliki firman-firman-Nya itu ?”, tanyanya, ingin lebih banyak tahu.

Kemudian saya membacakan firman-firman Allah Swt dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari surat Ar-Rahman. Pada saat itu tanpa terasa dia menangis tidak henti-hentinya, sampai saya selesai dari membacakan surat Ar-Rahman.

“Tidaklah layak untuk berbuat durhaka kepada pemilik kata-kata ini (Allah Swt)”, katanya, dia terlihat seolah merasakan getaran hebat dalam  hatinya, mungkin merasa kagum dan terpesona setelah mendengar firman-firman Allah Swt.

Kemudian saya memberitahukan tentang Islam dan ajaran tentang Islam kepadanya, lalu tanpa ada paksaan dan kesulitan berarti, diapun dengan mudah menyatakan diri masuk agama Islam. Alhamdulillah.
Kemudian saya mengajak dirinya naik kapal layar yang sebelumnya saya sandarkan di tepi pantai. waktupun kian semakin larut dan tiba saatnya menjelang tengah malam. Setelah kami berdua melaksanakan shalat Isya, maka kami bersiap-siap untuk tidur, ingin beristirahat dari kepenatan.

“Apakah Tuhan Allah yang saudara ajarkan kepada saya ini juga ikut tidur bersama ?”, di keheningan malam tanpa diduga dia bertanya seperti itu. “Tidak, Dia tidak tidur, bahkan Dia yang Maha hidup dan Maha berdiri”, jawab saya tersenyum merasa senang. “Saudara nampaknya hamba yang kurang baik dan tidak sopan, anda seenaknya tidur namun Tuhan saudara tidak”, dia mengkritik saya.

Setelah sampai di pelabuhan, kami hendak berpisah untuk menuju rumah masing-masing. Kami mengumpulkan uang secukupnya untuk memberi bekal pada dirinya, dengan harapan dapat lebih menguatkan imannya. Kemudian uang yang telah terkumpul lumayan banyak itu saya serahkan kepadanya.

“Apa ini ?”, dia bertanya. “Ini hanyalah uang untuk bekal saudara, kalau-kalau suatu saat nanti diperlukan”, tatapan saya penuh harap.

“Saudara mengajarkan saya agama Islam dan menyembah Allah, tapi saudara tidak terlihat mengamalkannya, sudah sekian lama saya menyembah berhala, menyembah selain Allah, tapi Allah tidak pernah membiarkan saya sampai kelaparan, lalu apakah setelah saya menyembah Allah Swt dan saya sekarang mengenal-Nya, kemudian Allah akan menyia-nyiakan diri saya hingga akan mengalami kelaparan ??”. dia kembali mengkritik saya, dan keimanannya mulai nampak kuat.

Akhirnya dia tidak menerima uang dari kami untuk bekal dirinya, saya tersenyum bangga karenanya, dan saat itu kamipun berpisah.

Setelah melewati tiga hari dari kejadian itu, saya mendengar khabar bahwa dia jatuh sakit, kemudian saya menemuninya. “Apakah yang dapat saya bantu?”, saya menawarkan bantuan.

“Bantuan saudara telah saya terima, yaitu ketika saudara mengeluarkan saya dari pulau itu dan mengenalkan saya tentang agama Islam, saya ucapkan terima kasih”, jawabnya.

Kemudian dia pun meminta izin untuk tidak diganggu, dia seolah ingin beristirahat, hatinya nampak tidak berhenti berdzikir. Malam itu saya menemaninya dan tidur disampingnya, dalam tidur saya bermimpi melihat wanita cantik berada di taman hijau nan indah, wanita itu berkata : “Lekas bawalah dia ke dalam sorga, saya sangat merindukannya”. Saya tersentak kaget dan terbangun, kemudian saya melihat dia, namun tidak terdengar lagi desah nafasnya, ternyata ia sudah meninggal.

Pagi harinya saya ikut menguburkan jenazah-nya bersama orang lain. Dan pada malam harinya saya kembali bermimpi, di dalam mimpi itu saya melihat dia dalam keadaan yang senang dan mewah, kepalanya mengenakan mahkota emas berlian, dikelilingi para bidadari cantik rupawan sambil membaca ayat berikut ini :

وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ باَبٍ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِماَصَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Artinya :
“Sedang para Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari setiap pintu sambil mengucapkan Keselamatan bagi kalian atas kesabaran kalian, dan alangkah baiknya sorga itu menjadi tempat tinggal”. (QS. Arra’du 22-23)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar